Fakta bukanlah Dunia Khayalan, karena hanya Elite Dunia yang telah merekayasa dan menciptakan semua khayalan itu agar masuk ke dalam otak mereka yang minim ilmu pengetahuan, supaya para Elit Dunia dapat selalu mempertahankan bisnis multi trilyun dollar melalui industri-industri farmasi raksasa milik mereka, agar tetap dapat mengontrol penyakit dan obat yang dikonsumsi oleh tiap insan manusia sejagad.
Tanaman ganja memang sangat unik karena memiliki efek yang berseberangan. Di satu sisi, tanaman tersebut dapat menyedapkan makanan yang dimasak. Tapi di sisi lain juga memberikan efek negatif karena masuk dalam salah satu jenis narkotika.
Keadaan itu sangat kontras dengan konsidi di dunia belahan Barat yang selalu mengedepankan riset atau penelitian. Di sana, masyarakat mengenal ganja sebagai bahan pembunuh sel kanker dan di legalkan alias diperbolehkan. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pernah menyatakan pendapatnya mengenai legalisasi ganja ini.
“Bahan apapun kalau dia jadi obat, itu sih boleh. Morphin itu kan enggak legal, tapi kalau dia jadi obat ‘kan boleh. Kalau segala sesuatu jadi obat, ya boleh. Asal bukan dilegalkan untuk hal-hal negatif,” paparnya.
Ganja Hentikan Penyebaran Sel Kanker
Ganja yang penjualan dan pemakaiannya dilarang, terbukti dapat menjadi obat alternatif kanker. Sebuah senyawa dalam ganja yang ditemukan oleh peneliti di California Pasific Medical Centre, San Fransisco, dapat berpotensi mematikan sel-sel kanker. “Butuh waktu sekitar 20 tahun untuk penelitian ini, dan hasilnya sangat menggembirakan” ujat Pierre Despres, seorang peneliti pada Huffington Post.
Desprezm seorang ahli biologi molekuler, menghabiskan waktu tahunan untuk mempelajari gen penyebaran kanker.
Sedangkan, Sean McAllister mempelajari efekCannabidiol, atau CBD, senyawa kimia yang berada dalam ganja.
Akhirnya, pasangan ini pun mencoba memadukan dua penelitian yang telah mereka lakukan. Menggabungkan CBD dengan sel kanker dalam sebuah cawan petri.
“Kami menemukan Cannabidiol memiliki sifat dasar ‘mematikan’, dan ini terjadi pada sel kanker,” sambungnya. Meski telah berhasil pada hewan uji laboratorium. Penelitian ini belum dapat diterapkan pada manusia. Para ahli masih menunggu izin untuk uji klinik pada manusia.
Pengobatan Ganja (Medical Marijuana) Bukanlah Narkotika
Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia.
Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir.Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu.
Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya.
Untuk itulah maka ganja tak bisa dijadikan obat untuk semua manusia, apalagi yang tak suka mabuk. Maka ilmuwan akan membuat efek mabuk itu menjadi hilang agar semua orang dapat menggunakannya sebagai penyembuh dan pengobatan berbagai penyakit.
Astroglia (Astrocytes)
Para peneliti mempelajari bagaimana reaksi tikus terhadap komponen aktif ganja dan beberapa unsur kimia lain yang mirip. Perhatian difokuskan kepada reseptor pada sel-sel otak yang bereaksi terhadap zat kimia yang bernama cannabinoid, sebuah senyawa yang mirip dengan komponen aktif pada ganja, yaitu Tetrahydrocannabinol (THC). Reseptor otak yang bereaksi terdapat pada neuron (sel syaraf) dan astroglia atau disebut juga astrocytes.
Para peneliti tersebut melakukan rekayasa terhadap tikus untuk melakukan percobaan. Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 3 kelompok:
- Kelompok pertama tidak mempunyai reseptor cannabinoid di otaknya
- Kelompok kedua hanya mempunyai reseptor pada neuron (sel syaraf)
- Kelompok terakhir hanya mempunyai reseptor pada astroglia.
Tikus-tikus tersebut diajarkan untuk melewati sebuah labirin. Setelah dianggap menguasai labirin, tikus-tikus tersebut lalu diberikan sejumlah dosis THC atau senyawa lain yang mirip dengan cannabinoid untuk mengetes kemampuan mereka dalam mengingat labirin.
Kelompok tikus yang dengan reseptor cannabinoid pada astroglia (kelompok-1) ternyata bermasalah dalam mengingat arah. Kelompok lain yang hanya memiliki reseptor pada neuron (kelompok-2) tanpa masalah berhasil melewati labirin.
Hal tersebut menunjukkan bahwa THC tidak mempengaruhi memori melalui neuron (sel syaraf), namun melalui astroglia. Para peneliti juga memperhatikan sel-sel astroglialpada bagian potongan otak yang berasal dari hippocampus (bagian otak yang berkaitan dengan pembentukan memori).
Setelah terkena cannabinoid, astroglia melepaskan senyawa yang mengganggu pengiriman sinyal antar neuron. Hal tersebut bisa menjelaskan mengapa ganja bisa memengaruhi memori.
Efek lain dari ganja yang bisa dikatakan bermanfaat adalah dalam mengobati rasa sakit, kejang, dan beberapa penyakit lainnya terjadi melalui neuron.
Jika zat cannabinoid bisa didesain hanya untuk memengaruhi neuron, pengaruh buruk ganja pada memori tentu bisa dihindari dan tentu saja pengobatan menggunakan ganja dimasa depan untuk banyak penyakit akan bisa dilakukan.
Untuk Obat, Ilmuwan Ciptakan Ganja Tidak Memabukkan
Ilmuwan Israel berhasil menciptakan ganja sintetis yang bentuk, bau, dan rasanya menyerupai daun ganja asli. Satu-satunya yang menjadi yang pembeda adalah, ganja sintetis ini tidak menimbulkan efek memabukkan selayaknya ganja sungguhan. Dan karena memiliki bau, bentuk dan rasa menyerupai ganja asli, produk ini berhasil menipu pasien.
Tikkun Olam, perusahaan yang mengembangkan ganja sintetis ini memang sengaja tidak membuat efek tersebut. Sebab, mereka memang berniat membuat hanya mirip secara bentuk, namun kandungan yang berbeda.
“Setelah mencoba ganja sintetis ini, banyak pasien kami kembali dan mengaku tertipu. Mereka mengira kami memberi semacam plasebo pada mereka,” kata Tzahi Klein, kepala bagian pengembangan Tikkun Olam, seperti dikutipDaily Mail, Jumat 1 Juni 2012.
Efek mati rasa yang biasa didapat seseorang saat mengonsumsi ganja, berasal dari zat THC atautetra-hydro-cannabinol yang terkandung di dalamnya.
Para ilmuwan Israel lebih memilih untuk meningkatkan efek zat yang lebih ringan, yaitu cannabidiol, yang seringkali digunakan untuk meringankan efek gangguan mental. Di Israel, ganja digolongkan ke dalam obat-obatan kelas B.
Di negara ini, ilegal bagi warganya untuk memiliki dan menghisap ganja. Penggunaan daun ini diperbolehkan di Israel untuk tujuan medis. Tikun Olam adalah salah satu perusahaan Israel yang menumbuhkan ganja untuk keperluan ini.
Kanker Pankreas hakim kenamaan asal New York ini berhasil sembuh total berkat ganja
Beberapa saat lalu, tulisannya di New York Times tentang pengakuannya menggunakan ganja medis kontan sedikit membuat gempar kota yang konon katanya tak pernah tidur itu.Gustin L. Reichbach, adalah seorang hakim kenamaan dari New York State Supreme Court, yang juga adalah pengidap kanker.
Kisah ini merasa perlu diangkat sebagai sebuah artikel berdasarkan pertimbangan; penyakit, kelainan dan wabah bisa terjadi kepada siapapun, lintas profesi ataupun usia.
Menyikapi pernyataan-pernyataan yang sang hakim beberkan terkait profesinya juga keterlibatannya dengan tindak kriminal, dalam hal ini penggunaan ganja, harusnya bisa sedikit menghapuskan stigma-stigma buruk tentang pengguna ganja, yang umum diketahui berperilaku buruk dan tidak menyenangkan.
Juga secara lantang (harusnya) membantah undang-undang yang mengklasifikasikan ganja sebagai narkotika berbahaya, tanpa nilai medis sedikitpun.
Kanker stadium 3 dinyatakan dokternya bersamaan dengan vonis sisa usia yang maksimal hanya bisa bertahan 6 bulan saja!Pernyataan dari Gustin L. Reichbach ini diutarakannya dalam sebuah artikel di New York Times setelah menerima vonis kanker pankreas 3 setengah tahun lalu, ketika dia baru saja berulang tahun ke-62.
Pada 16 Mei 2012, 3 setengah tahun setelah divonis, sang hakim angkat bicara. Bukan tanpa risiko, tentunya.
Dia bisa saja kehilangan pekerjaannya dan mendapatkan masalah dengan hukum yang berlaku, mengingat hukum negara bagiannya dimana segala bentuk penggunaan ganja adalah ilegal.
Menurutnya, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan jika faktanya, ganja yang pemerintah federalnya larang sepenuh hati ini, ternyata sangat bermanfaat untuk kanker yang dideritanya.
“My survival has demanded an enormous price, including months of chemotherapy, radiation hell and brutal surgery.”
Segala perawatan yang dia jalani setelah diagnosis bagaimanapun telah memperpanjang usianya.
Setiap obat pabrikan yang dokternya sarankan untuk meringankan satu gejala selalu berujung kepada pengkonsumsian obat-obatan lainnya untuk sekedar meredakan efek samping dari obat tersebut.Meskipun, lanjutnya lagi, biaya yang dikeluarkan, efek samping chemoteraphy, dan puluhan obat-obatan yang hanya bersifat menenangkan sementara dengan efek-efek samping yang tak kalah mengganggu, seperti mual, hilangnya selera makan dan susah tidur.
Obat penghilang rasa sakit contohnya, selalu berujung kepada hilangnya nafsu makan dan sembelit.
Juga obat anti-mual, ungkapnya, malah mengakibatkan masalah lain seperti melangitnya kadar gula dalam tubuh rentannya.
Begitu seterusnya, dan bisa dibayangkan nominal uang yang harus disediakan untuk sekedar berusaha mempertahankan keberlangsungan hidup belaka.
Selepas setahun perawatan yang menyengsarakan, kanker pankreas Gustin akhirnya hilang, meskipun dia sadar bahwa kanker itu hilang hanya untuk kembali merongrong nyawanya.
Mual dan nyeri adalah kesetiaan yang senantiasa menemani kapanpun selepas perawatan “IV Booster of Chemoteraphy“. Bahkan “makan”, salah satu hal paling menyenangkan dalam hidup, kini baginya adalah peperangan yang menyengsarakan setiap harinya, dimana setiap suapan sendok adalah sebuah kemenangan.
Juga tidur, satu aspek paling vital untuk membantu proses recovery dan hiburan untuk kesengsaraan sehari-harinya, kini menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dimiliki.
“This is not a law-and-order issue; it’s a medical and human rights issue.“
“Menghisap ganja adalah satu-satunya cara untukku meredakan mual, meningkatkan nafsu makan dan memudahkan kantuk untuk datang di akhir hari.”
Beruntunglah beberapa temannya, yang tentunya tak tega melihat kesengsaraan sang hakim rela (dengan risiko pribadi) menyediakan akses untuk ketersediaan ganja medisnya.
“Di posisiku yang masih aktif sebagai hakim dan bekerja mengadili kasus-kasus, banyak teman dan relasi yang mempertanyakan keputusanku mengangkat isu ini.
Ini kulakukan karena kesadaran bahwa para penderita kanker sepertiku di luar sana, mungkin tidak punya akses mengungkapkan keadaan buruk masing-masing secara masal.
Sangat menyakitkan rasanya bahwa dalam masalah kanker seperti ini, satu-satunya obat yang dapat menolong tanpa efek-efek samping yang rumit, dalam hal ini yaitu cannabis, masih saja diklasifikasikan sebagai narkotika”, lanjutnya dalam artikel tersebut.
“Aku tidak bakal tinggal diam, karena meng-kriminalisasikan obat paling efektif akan berujung kepada ketidak-adilan sistem administrasi hukum yang berlaku.
Aku merasa berkewajiban baik sebagai hakim atau sebagai penderita kanker, memohon kepada pemerintah negara bagian New York untuk mengikuti langkah 17 negara bagian lainnya yang telah memberikan akses untuk ganja medis.
Karena adalah tidak manusiawi untuk menghalangi kami (penderita kanker) dari sebuah substansi alam yang telah terbukti membantu penderitaan kami”, tutupnya. (lihat video pembahasannya)
Kanker Leukimia anak asal Oregon AS ini berhasil sembuh total berkat ganja
Penelitian terbaru yang dilakukan tim dari University of Alberta menunjukkan bahwa daun ganja ternyata mengandung bahan aktif yang dapat menambah nafsu makan para pasien kanker. Bahan aktif dalam ganja yang disebut delta-9-tetrahydrocannabinol(THC), dapat meningkatkan selera makan dan kemampuan pengecapan pada pasien kanker stadium lanjut.
Tak hanya itu, mereka dapat menikmati makanan dan tidak merasa lapar adalah perbaikan yang besar untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” jelas peneliti Wendy Wismer, seorang ilmuwan makanan di University of Alberta di Kanada.“Mariyuana emiliki reputasi yang buruk bagi orang sehat, tetapi studi menunjukkan bahwa ganja juga memiliki efek yang baik bagi pasien kanker.
Rupanya, karena alasan inilah, seorang ibu warga negara Oregon, Erin Purchase percaya dan memberikan terapi ‘pengobatan’ marijuana sebagai bagian dari pengobatannya kepada sang putri Mykayla Comstock (7) yang sedang menderita kanker.
Sebelum menjalani treatment ‘pengobatan’ marijuana, bocah kecil itu mengalami respon yang buruk terhadap pengobatan kemoterapi.Dilansir healthland.time, Mykayla didiagnosa dengan leukemia lymphoblastic akut pada bulan Juli 2012 lalu dan terus menerus menjalani kemoterapi.
Namun, Erin mengaku sengaja memberikan ganja dalam bentuk minyak kepada putrinya untuk mengurangi efek samping dari kemoterapi, mengurangi rasa sakit dan menambah nafu makan.
Melihat perkembangan putrinya yang mulai membaik, sang ibu Erin terpaksa meninggalkan saran dokter untuk transplantasi sumsum tulang dan menggantinya dengan ganja sebagai terapi pengobatan dan mengurangi rasa sakit dan mual yang diderita putri tercintanya.
Sementara, The American Academy of Pediatrics menentang penggunaan ganja untuk mengobati anak-anak muda, mengutip potensi adiktif dan tidak diketahui banyak tentang bagaimana hal itu dapat mempengaruhi perkembangan tubuh.
The Institute of Medicine (IOM), sebuah kelompok ilmiah ahli menganalisis data yang tersedia dan sejak 1999 telah mengakui bahwa beberapa keperluan medis yang bisa dilakukan adalah ganja.
“Masih banyak pengobatan-pengobatan yang efektif untuk meredakan mual dan nyeri kanker,” ungkap peneliti. Penelitian juga mengakui bahwa untuk beberapa pasien yang mungkin tidak merespon terapi, komponen dalam ganja dapat membantu.
Laporan IOM menyoroti kebutuhan untuk penelitian lebih banyak ke dalam pemahaman menggunakan obat ganja termasuk gejala atau kondisi yang mungkin paling efektif, dan yang pasien.
Mereka prihatin ketika datang untuk mengobati anak-anak seperti Mykayla yang sering tidak disertakan dalam uji klinis karena usianya yang masih muda.
Pasien memiliki kemungkinan beberapa tahun lagi menghadapi efek samping dari obat.
Beberapa ahli menunjukkan bahwa tidak semua komponen ganja, dan pengaruhnya terhadap tubuh, telah dipelajari atau belum dipahami dengan baik. Tanpa penelitian lebih lanjut, baik dokter dan orang tua akan terus menghadapi keputusan yang sulit memberikan pengobatan bagi anak-anak yang jauh dari bahaya. (lihat video Mykayla Comstock saat pengobatan / lihat video Mykayla Comstock setelah sembuh)
Wanita Penderita Tumor Otak Yang Sembuh Total Karena Ganja
Seorang wanita bernama Kristina Marie – ia menolak kemoterapi, dan tumor di otaknya menyusut dengan menggunakan minyak ganja THC (Tetrahydrocannabinol) dan TANPA EFEK SAMPING seperti terdapat pada obat apapun / atau lainnya.
THC Ganja bukanlah obat (medicine) kimia berbahaya seperti semua pengobat kanker lainnya, tapi THC Ganja merupakan penyembuh alamiah (herbal nature).
Penyakit kanker jika diobati dengan obat biasa apapun itu, kehidupan orang tersebut hanya “diperpanjang” karena obat hanya MENGHAMBAT perkembangan kanker dan akan tetap menyebar.
Tapi dengan THC Ganja, sel kanker dapat dimusnahkan total dan membuat kehidupan orang tersebut “tak diperpanjang” tapi kehidupan orang tersebut menjadi kembali normal atau kembali semula saat belum terkena kanker. (lihat video kesaksian Kristina Marie).
Hentikan Kemoterapi, Ibu Mengobati Kanker Leukimia Anaknya dengan Ganja
Salah satu saksi-mata lagi, dari sekian ribu kasus kanker yang berhasil sembuh oleh cannabis adalah seorang ibu, bernama Sierra Riddle yang memilih menghentikan kemoterapi bagi anaknya yang mengidap kanker dan memilih memberikan ganja sebagai obat.
Sierra memutuskan menghentikan kemoterapi bagi Landon, bocah berusia tiga tahun karena pengobatan itu membuat anaknya justru semakin menderita.
Landon yang didiagnosis menderita kanker leukimia, kata Sierra, selama menjalani kemoterapi justru sakit keras, muntah beberapa kali dalam sehari dan mengalami kerusakan saraf di kakinya.
Bahkan, katanya, pernah dalam suatu titik, Landon tidak bisa makan sama sekali selama 25 hari.
Akhirnya sang ibu memutuskan menghentikan kemoterapi dan pindah ke Colorado yang ganja adalah legal digunakan sebagai pengobatan.
Ia mengatakan pengobatan itu justru membuat kondisi anaknya semakin baik dan kankernya perlahan-lahan hilang. Pada Januari 2013 lalu, Landon mulai mengambil bentuk cair THC (tetrahydrocannabinol) dan CBD (cannabidiol), dua senyawa yang ditemukan dalam ganja. Ajaibnya, kankernya mulai menyerah.
“Segera setelah kami mulai mengambil minyak, trombositnya meningkat seperti milik orang sehat dan mereka tidak bisa mengerti mengapa,” kata Riddle kepada CNN seperti dikutip dari nydaily.
“Saya hanya ingin mengatakan, tidak peduli apakah saya dikatakan bukan ibu yang baik dengan tidak mengupayakan kemoterapi bagi anaknya, tapi saya tidak akan mengambil risiko kehilangan dia, ” katanya.
Sierra Riddle memilih menghentikan kemoterapi bagi anaknya yang bernama Landon, yang mengidap kankerleukimia.
Sierra bukan orang tua pertama yang menggunakan ganja sebagai pengobatan medis untuk memerangi kanker pada anak. Tujuh tahun lalu seorang gadis berusia tujuh tahun di Oregon diberi ganja oleh ibunya untuk meredakan gejala leukimia.
Karena hukum kebanyakan di negara mengilegakan ganja maka hampir tidak ada bimbingan bagi orang tua yang ingin memberikan pengobatan ganja bagi anaknya.
Senyawa CBD memiliki kemampuan memerangi kanker pada sel manusia dan tikus sesuai percobaan laboratorium. Hal itu diungkapkan peneliti dari California Pacific Medical Center Research Institute kepada CNN.
Kanker lever kakek ini berhasil sembuh berkat ganja
Bagi Mike Cutler, seorang kakek berusia 63 tahun asal East Sussex, Inggris, keampuhan ganja dalam hal kesehatan tak diragukan lagi. Setidaknya untuk mengobati kanker lever yang dideritanya. Cutler menerima transplantasi lever pada tahun 2009, namun kanker itu kembali pada tahun 2012 lalu dan menyerang organ barunya.
Cutler berusaha mencari pengobatan alternatif tetapi tidak menemukannya. Akhirnya dia menggunakan minyak ganja atas inisiatifnya sendiri. Berkat minyak ganja tersebut, Cutler saat ini bebas dari kanker lever.
Cutler sendiri menemukan khasiat minyak ganja melalui salah satu situs video YouTube, seperti dilansir oleh Daily Health Post (11/11).
Selama ini Cutler sering mengalami rasa sakit yang akut. Setelah mengonsumsi minyak ganja selama tiga hari, rasa sakit itu hilang seketika. Bulan Mei tahun ini, kakek Cutler mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan kankernya. Namun setelah diperiksa, sel kanker dalam levernya telah hilang!
“Menemukan bahwa aku akan mati sangat menakutkan. Yang kumiliki saat itu hanya laptop, dan aku menggunakannya untuk mencari apa yang bisa menolongku,” ungkap Cutler.
Cutler membeli minyak ganja dalam bentuk kapsul, kemudian mengonsumsinya satu setiap hari. Dia sudah terkejut ketika tahu rasa sakitnya hilang setelah tiga hari. Namun ketika mengetahui semua sel kankernya hilang, dia lebih terkejut lagi.
Menurut laporan dailymail.co.uk, saat ini Cutler menanam ganja untuk berjaga-jaga mencegah kanker muncul lagi. Dia juga bekerja sama dengan dokter untuk menggunakan ganja sebagai obat dengan Professor David Nutt di Inggris.
Ganja Obat Kanker Masa Depan
Efek negatif ganja terhadap memori sudah lama dikenal. Tapi kini para ilmuwan telah menemukan lokasi di bagian mana otak yang bisa terpengaruh dan menyebabkan kelupaan.
Jika penelitian tersebut berhasil, saat percobaan yang dilakukan menggunakan tikus dan diperkirakan bisa diterapkan pada manusia, berarti suatu hari nanti para ilmuwan akan mampu menciptakan obat yang diproduksi menggunakan ganja tanpa menggangu memori kerja pasien saat obat tersebut bekerja mengobati penyakit.
Memori kerja merupakan kemampuan untuk mengingat lebih dari satu pemikiran di kepala dalam suatu periode.
“Kami telah menemukan titik awal dari fenomena tersebut – efek dari ganja terhadap ingatan – .adalah sel astrogial,” ujar peneliti lembaga riset biomedis di Institut di National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM), Giovanni Marsicano.
Giovanni menemukan fakta bahwa gangguan terhadap memori kerja tidak disebabkan oleh efek dari obat (yang diproduksi menggunakan ganja) yang langsung menyerang sel-sel saraf pada otak, melainkan pada jenis sel yang lain, yaitu sel-sel pembantu otak yang disebut astroglia (sering disebut astrocrytes, neuroglia, atau sel-sel glial).
Inilah bukti konspirasi “barat” bahwa pemerintah negara² industri dan bisnis besar “multi billion dollar” mereka di dunia pharmaceutical, dalam upayanya untuk menjaga tanaman ini tetap terlarang (ilegal) dan tak meruntuhkan industri pharmaceutical para elit dunia tersebut.
Denagn begitu, maka para Elit Dunia dapat selalu mempertahankan bisnis multi trilyun dollar melalui industri-industri farmasi raksasa milik mereka, agar tetap dapat mengontrol penyakit dan obat yang dikonsumsi oleh tiap insan manusia sejagad. Terlarangnya ganja adalah asli karena persaingan bisnis, karena uang dan karena pendukung depopulasi dunia, nothing else!. (berbagai sumber)
“The number one reason why marijuana is illegal is because the Pharma Cartel does not want you to grow your own medicine. The Declaration of Independence was written on hemp paper. The first car ever made ran on hemp oil. Hemp seeds are also the healthiest food on the planet with the highest protein content out of any plant.” -Joe Rogan




0 komentar:
Post a Comment
Silahkan comment dengan bahasa yang sopan demi kebaikan kita bersama...
Salam succes...